
sawitsetara.co - PEKANBARU — Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Perkebunan menetapkan nilai indeks K terbaru yang akan menjadi acuan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit untuk satu bulan ke depan. Penetapan ini dilakukan setelah mempertimbangkan dinamika produksi dan biaya operasional selama periode libur Lebaran.
Hasil pembahasan tim menunjukkan tren yang berbeda antara kelompok petani plasma dan swadaya. Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Riau, Defris Hatmaja, menyebutkan adanya pergeseran angka pada kedua kelompok tersebut.
“Untuk mitra plasma, indeks K bulan ini mengalami penurunan sebesar 0,31 persen. Sementara untuk swadaya justru naik 0,1 persen,” ujar Defris, Selasa (31/3/2026), dikutip Riauaktual.com.

Dalam rapat penetapan, indeks K untuk plasma ditetapkan sebesar 92,67 persen, turun dari posisi sebelumnya 92,98 persen. Sebaliknya, indeks K swadaya meningkat menjadi 92,76 persen dari sebelumnya 92,66 persen.
Defris menjelaskan, perubahan ini dipengaruhi oleh turunnya rata-rata produksi TBS yang diolah pabrik kelapa sawit (PKS). Penurunan produksi terjadi karena aktivitas pabrik sempat terhenti selama libur Lebaran.
“Rata-rata produksi TBS olah menurun karena libur lebaran. Akibatnya, komponen pembagi biaya menjadi lebih sedikit, sehingga mempengaruhi nilai indeks K yang ditetapkan. Selain itu adanya biaya tambahan yang dikeluarkan PKS berupa THR. Berdasarkan Permentan, aturannya seperti itu, gaji dan THR juga masuk ke dalam biaya operasional langsung atau BOL,” kata dia.

Selain indeks K, pemerintah juga menetapkan sejumlah komponen pendukung dalam perhitungan harga TBS. Pada kelompok plasma, nilai cangkang naik dari Rp16,51 per kilogram menjadi Rp16,94 per kilogram. Persentase biaya operasional tidak langsung (BOTL) juga meningkat dari 1,27 persen menjadi 1,32 persen.
Adapun pada kelompok swadaya, nilai cangkang justru turun dari Rp22,60 per kilogram menjadi Rp19,07 per kilogram. Sementara BOTL naik tipis dari 0,49 persen menjadi 0,52 persen.
Indeks K merupakan salah satu variabel utama dalam formulasi harga TBS di tingkat petani. Angka ini mencerminkan pembagian nilai antara perusahaan pengolah dan pekebun, yang dipengaruhi oleh rendemen, biaya operasional, serta volume produksi.

Dengan penetapan terbaru ini, harga TBS sawit di Riau untuk periode satu bulan ke depan akan mengacu pada nilai indeks K yang telah disepakati.
“Indeks K ini akan digunakan sebagai dasar penetapan harga TBS satu bulan ke depan, baik untuk petani plasma maupun swadaya,” ujar Defris.
Tags:



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *